Tampilkan postingan dengan label Serial Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serial Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Kita Berbeda Tapi Tetap Bersaudara

Senin, 12 Maret 2012 | 0 komentar


Suatu ketika di dalam sebuah ruangan Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadits. Ada sebuah peristiwa unik. Sebenarnya biasa aja sih. Hanya saja yang membuat unik adalah pertanyaan dari mahasiswa kepada sang Doktor. Ketika itu saya juga berada di dalam kelas mendengarkan muhadharah dari Doktor. Kebetulan kami saat itu belajar tentang madah "Milal wa Nihal". Pelajaran yang cukup ditakuti oleh para mahasiswa (emangnya hantu?) hehe.

Salah seorang mahasiswa yang berasal dari India bertanya kepada sang dosen. Ya duktur...hal aqidah asy'ariah shohihah? (apakah aqidah asy'ari benar). Dengan tersenyum duktur tersebut menuliskan enam rukun iman di papan tulis. Mulai dari percaya kepada Allah sampai percaya kepada qadha' dan qadhar. Kemudian duktur balik bertanya kepada para mahasiswa, adakah yang berbeda pendapat tentang percaya kepada qadha' dan qadhar? dengan serempak mahasiswa menjawab "tidak". Beliau melanjutkan dengan pertanyaan adakah yang berbeda pendapat tentang percaya kepada hari akhir? "tidak". Percaya kepada kitab-kitab Allah, kepada para rasul Allah, kepada para malaikat, semuanya menjawab tidak ada yang berbeda. Pertanyaan terakhir, adakah yang berbeda pendapat tentang percaya kepada Allah? Tidak ada yang berbeda pendapat kecuali hal-hal furu' (cabang) pada sifat-sifat Allah.  

Yup, tidak bisa kita pungkiri banyaknya gerakan Islam saat ini. Satu sisi kita bahagia karena semakin banyak orang yang mulai mempunyai kesadaran Islam yang tinggi. Di sisi lain perbedaan harakah Islamiah malah membuat sebagian orang menjadikan "anti" dengan harakah islamiah yang lain. Bahkan yang lebih parahnya kita mengganggap harakah kita yang paling benar sedangkan harakah islamiah yang lain adalah salah dan ahli bid'ah. Naudzubillah.

Ikhwati fillah, Dr Yusuf Qaradhawi dalam kitabnya "Ummah Islamiah" mengatakan bahwa perbedaan di antara harakah Islamiah hanyalah  ikhtilâf tanawwu' (perbedaan variatif) bukan ikhtilâf tadhâd (perbedaan kontradiktif). Yha, ikhtilaf yang ada dalam harakah Islamiah hanyalah ikhtilaf dalam furû`ijtihâdiyah (masalah-masalah cabang yang merupakan lahan berijtihad). Perbedaan dalam hal ini adalah wajar dan masing-masing penganut pendapat harus saling toleran dan tidak boleh menggiring umat kepada perpecahan.

Perbedaan metode dakwah yang digunakan oleh harakah islamiah sekarang seringkali menjadi pemicu perpecahan di antara mereka. Padahal mereka tidak berbeda pada asas-asas fundamen dan pokok-pokok ajaran yang bersumber dari Al-Quran, Sunnah dan Ijmâ` umat. Seharusnya mereka berusaha saling mencintai dan mendekati, karena perbedaan yang ada hanya sebatas perbedaan dalam metode yang sifatnya ijtihâdi. Ada sebagian kelompok umat yang fokus pada dunia dakwah, amar makrûf nahi mungkar dan memurnikan ajaran tauhid. Ada yang terjun dalam dunia pendidikan, ada yang terjun dalam dunia politik, ada yang berkorban nyawa untuk membela Islam dan hak-hak kaum muslimin, ada yang berjuang dengan menerangkan kebenaran dan memberi pencerahan dengan lisan maupun tulisan kepada umat, ada yang berjihad dengan menuntut ilmu, ada yang berjihad dengan harta dan sebagainya. Semuanya pada hakikatnya saling melengkapi, karena tidak mungkin satu kelompok dapat menutupi semua lobang yang berusaha ditutupi oleh kelompok yang lain.

Imam Hasan Al Banna dalam Majmuatu Rasail pada bab risalah dakwatuna mengatakan bahwa  perbedaan dalam masalah furu' adalah sebuah kemestian yang tidak bida dihindari. Sangat sulit untuk menyatukan pendapat disebabkan oleh beberapa hal:

Pertama: Perbedaan akal manusia dalam mengistinbath suatu hukum. Agama kita ini terdiri dari ayat-ayat Al Qur'an, Hadits, dan nash-nash lainnya. Setiap orang akan berbeda dalam menafsirkan suatu nash tergantung sejauh mana ia memahami nash tersebut. Maka nggak perlu heran orang akan berbeda pendapat dalam menafsirkan suatu nash.

Kedua: Keluasan ilmu seseorang. Berkaitan erat dengan sebab yang sebelumnya. Sebagai contoh si A baru sekolah dasar sedangkan si B sudah kuliah. Maka dalam memandang sesuatu hal keduanya pasti akan berbeda. Ulama A sudah banyak mengkaji nash-nash hadits misalnya sehingga ia berdalil dengan hadits yang shohih. Kemudian ulama B tidak ahli dalam ilmu hadits, maka boleh jadi ia berdalil dengan hadits dhoif atau hadits mansukh (sudah dihapus). 

Ketiga: Perbedaan dalam ithmi'nan qolb (ketenangan hati) pada satu hadits. Boleh jadi perawi ini mengatkan bahwa sanad hadit ini tsiqoh, tapi tidak menutup kemungkinan ada ulama lain mengatakan bahwa si fulan orangnya mukhtalith (orang yang hafalannya melemah setelah terjadi peristiwa misalnya kitabnya terbakar atau sudah uzur) dan lain sebagainya. Salah satu pembahasan dalam ilmu hadits adalah ilmu Jarh wa Ta'dil. Makanya perbedaan suatu hal yang tidak bisa dihindari.

Bahkan para sahabat nabi saw juga berbeda pendapat, tapi hal tersebut tidak membuat perpecahan diantara mereka. Mereka adalah orang-orang yang sezaman dengan baginda Rasulullah saw. Lalu bagaimana dengan kita yang terpaut jauh dengan Rasulullah.

Ikhwati fillah, Jadilah orang-orang yang mempunyai kelapangan dada dalam menyikapi perbedaan "Ausa'unnas shadran". Salah seorang ulama mengatakan "Kita saling tolong menolong dalam hal yang kita sepakati dan saling bertoleransi dalam perbedaan". Bukankah persamaan kita lebih banyak ketimbang perbedaan, satu aqidah, satu Rasulullah, satu Al Qur'an. Maka masihkah kita ngotot menjelekkan sesama saudara?
_________________________________________________________________________________
Akhrie Robbani
Istana SINAI, 13 Maret 2012
Ditemani dengan senandung nasyid Izzatul Islam "Bersatulah"

Dunia Islammu kini tengah terbakar
hancur tertindas luruh karena makar
telah tiba waktu untuk segera bersadar
satukan barisanmu yang kini terpencar

Kantin Al Azhar dan Penjual Buku Bekas

Selasa, 04 Oktober 2011 | 0 komentar


Sebenarnya sudah lama saya tak menulis lagi. Ada rasa rindu menekan tombol-tombol di laptop toshibaku. Tapi setiap kali duduk manis depan laptop, selalu saja ada keinginan untuk membaca artikel-artikel menarik atau ngedit-ngedit poto. Jadinya setiap mau nulis bawaanya malas aja. Atau kadang sudah nulis tapi nggak sampai dua paragraf idenya udah pada kabur sehingga tulisan tak pernah rampung.

Memang menulis adalah sebuah keterampilan. Dan keterampilan harus selalu dilatih. keterampilan mengungkapkan perasaan lewat tulisan tak semudah yang dibayangkan. Padahal cita-citaku ingin menerbitkan sebuah buku tentang remaja. Nulis aja malas. Emang seh dua bulan lebih ini aku terfokus menghadapi ujian sehingga tidak sempat untuk menulis. padahal pas ujian banyak banget ide yang berkeliaran. Tapi sayang nggak ditangkap dan diikat lewat tulisan.

Perjalanan ini Tak Boleh Berhenti

Jumat, 15 April 2011 | 0 komentar


Beberapa hari yang lalu aku meminjam beberapa buku di perpustakaan mahasiswa Indonesia Kairo atau yang lebih dikenal dengan PMIK. Satu-satunya perpustakaan yang memiliki banyak koleksi buku-buku yang berbahasa Indonesia. PMIK terletak di sebuah kawasan yang boleh dibilang elit yaitu "Rob'ah El Adaweah". Bagi yang pernah baca buku Ayat-Ayat Cinta-nya Kang Abik pasti pasti pernah dengar yang namanya Masjid Rob'ah El Adaweah. Karena masjid ini memang mempunyai ciri khas dibanding masjid-masjid lainnya. Selain itu fasilitas masjid ini sangat lengkap dari Dar el Munasabat (ruang pertemuan) bahkan rumah sakit.

Kadang dikala suntuk aku memang suka mencari suasana baru. Diantaranya dengan mengunjungi perpustakaan mahasiswa Indonesia di Kairo. Selain itu di PMIK juga banyak terdapat buku-buku novel dan cerpen bagi yang suka bacaan sastra. Kalau aku pribadi lebih suka pada buku-buku pengembangan diri atau motivasi. Karena dengan membacanya buku-buku tersebut aku bisa lebih percaya diri tampil apa adanya. 

Perjalanan Menambatkan Hati ke Alexandria

Jumat, 19 November 2010 | 2 komentar

Masih ingat dengan novel Ketika Cinta Bertasbih yang ditulis oleh Kang Abik, kayaknya semua sudah tahu dhe, khan difilmkan juga dengan dibintangi Oki Setiana Dewi sebagai Anna Althafunnisa dan Cholidi Asadil Alam sebagai Khairul Azzam.

Di awal novel ini bercerita tentang pengorbanan seorang Mahasiswa Al Azhar yang banting tulang untuk membiayai adik-adiknya yang masih bersekolah di Indonesia bahkan rela untuk menjual tempe ke rumah-rumah mahasiswa Indonesia yang ada di Kairo.

Novel ini juga bercerita tentang keindahan pantai Alexandria kota kedua termegah setelah Cairo dan di sini juga tempat berlabuhnya kapal-kapal pesiar yang berasal dari Eropa, karena letak kota ini persis di tepi laut Mediterania.
 
© Copyright 2010-2011 Generasi Rabbani All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.