Tampilkan postingan dengan label Muda Luar Biasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muda Luar Biasa. Tampilkan semua postingan

Agar Istiqomah di Jalan-Nya

Selasa, 21 Agustus 2012 | 0 komentar


Bro and Sis rahimakumullah...nggak terasa yha. Ramadan telah berlalu dari hadapan kita. Seneng nggak...? bukannya sedih malah seneng? Ramadan bulan yang selalu di nanti kini telah pergi meninggalkan kita. Semoga saja kita termasuk orang-orang yang dibebaskan dari api neraka. Amin. 

Dulu pas Ramadan, jauh sebelum subuh datang kita udah pada bangun. Ada yang sholat tahajjud, baca Qur'an, dan ibadah lainnya. Dan ada juga yang masak-masak  nyiapin buat sahur. Terutama nih, anak-anak yang jauh di perantauan. Kayak kita-kita nih, maklum masih bujangan (hehe). Luar biasa sekali Ramadan yang telah berhasil merubah pola hidup kita sebelum Ramadan. Tapi kini ia telah pergi...akankah kita kembali sama seperti sebelum Ramadan? tanyakan pada rumput yang bergoyang..lho? maksudnya pada diri masing-masing.Gitu aja kok repot!

Syair Untuk Indonesiaku

Jumat, 17 Agustus 2012 | 0 komentar

Di alam seribu menara
Kuhantarkan pandangan mata
Menyibak semesta cakrawala
Ditemani cahaya bebintangan gegap gempita

Dilangit tersenyum sumringah
Kejora menatapku ramah
Memikat hatiku yang sedikit gundah
Ada harapan untuk tidak goyah

Mengingatkanku kenangan masalalu
Kisah heroik yang menyejarah
Sirat akan makna yang satu
Persatuan yang mengorbankan darah

Mungkin itu pesan istimewa
Yang disampaikan kejora
Untuk kita semua
Di tanah air Indonesia

Seperti kejora yang terang
Tak sendirian benderang
Ada bulan dan bintang-bintang
Bersatu dalam gemilang

Dengan limit kekuatan
Tetap harus kusampaikan
Dalam tidak keseimbangan
Tubuh yang semakin kelelahan

Dari Negri para Nabi
Kutuliskan syair ini
Atas nama tunas generasi
Untuk semua dada yang dihiasi
Garuda gagah berani

Jadilah hiasan langit
Saling menyempurnakan
Bergandengan untuk bangkit
Ciptakan harmoni keindahan

Malukah kita dengan garuda?
Yang kokoh gagah perkasa?
Menjadi korban ego kita?
Dalam azas kesatuan Negara?

Cukuplah sudah teman
Erat dan saling mengokohkan
Pesan yang kejora sampaikan
Masih ada harapan kejayaan

                                                                                                  
                                                                                                  Kairo, 17 Agustus 2012
                                                                                             Seorang Muslim Negarawan
                                                                                                        Afif Muhajir

Kecil-Kecil Jadi Hafidz

Sabtu, 07 Juli 2012 | 0 komentar


Sobat muda, pernah nggak kita bercita-cita atau mempunyai keinginan untuk menghafal 30 Juz Al Qur'an. Dalam benak kita langsung terbayang Al Qur'an yang begitu tebal dengan bahasa arab yang susah. Boro-boro 30 juz, juz 30 aja belum hafal semuanya. Tapi kenapa ada banyak orang yang bisa hafal Al Qur'an. Tidak hanya orang arab saja. tapi orang selain arab juga banyak hafal Al Qur'an.

Beberapa hari kemarin dirumah saya kebetulan ada dua orang adik yang masih berumur 15 tahun sudah hafal Al Qur'an. Rencananya ia akan melanjutkan daurah Al Qur'an di Gaza. Tempat anak-anak penghapal Al Qur'an. Kita masih beruntung disini masih bisa belajar dan menghafal dengan tenang. Tapi disana, anak-anak Gaza menghafal Al Qur'an di bawah desingan peluru dan bom.

Kejarlah Kebajikan Sampai ke Liang Lahat

Minggu, 06 Mei 2012 | 0 komentar


Ikhwati fillah…

Dari kita bangun pagi hari ini sampai tidur kembali, tanyakan pada diri kita “kebajikan apa yang kita lakukan hari ini”. Adakah kebajikan yang kita lakukan lebih banyak daripada maksiat. Atau malah sebaliknya kita lebih banyak melakukan kemaksiatan ketimbang kebajikan.

Berbuat kebajikan atau berbuat maksiat sama-sama mudah. Tinggal kita saja mau pilih yang mana. Allah sudah memberikan kita pilihan. Jalan menuju ke surga atau jalan ke neraka. Pilihan ada di tangan kita, bukan di tangan orang lain. Mau jalan ke surga maka jadilah orang yang saleh. Tapi kalau mau jalan ke neraka maka jadilah orang-orang yang pembangkang atas perintah Allah.

Akhi…ketahuilah bahwa kita semua adalah hamba. Yha, dan seorang hamba harus patuh kepada Tuannya. Dan “Tuan” kita sudah memberikan perintah untuk selalu beribadah kepada-Nya. “Dan tidak Kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”. Pantaskan seorang hamba membantah perintah yang diberikan “Tuan”.

Siapakah diri kita yang sering kali berlagak sombong dan angkuh. Tak ada yang bisa banggakan di atas dunia ini. Karena semuanya adalah milik Allah. Dan Allah berhak untuk mengambilnya kapan saja. Kita hanya manusia yang kemana-mana selalu membawa kotoran. Bukankah kita diciptakan dari air mani yang jika dijual niscaya tidak akan pernah laku.

Sekarang kita tahu bahwa posisi kita hanyalah seorang hamba yang harus taat kepada “Tuan”nya. Maka tak ada pilihan selain menyegerakan untuk berbuat kebajikan. Karena dengan kebajikan kita bisa meraih surga-Nya yang seluas langit dan bumi. Senyuman yang penuh keikhlasan di depan saudara kita merupakan kebajikan. Mengucapkan salam kepada orang lain juga kebajikan. Mendoakan saudara seiman dan masih banyak macam kebajikan yang mesti kita kerjakan.

Lalu mengapa kita harus menyegerakan kebajikan dan amal saleh. Pertama: Karena aset waktu yang kita punya hanya saat ini. Yha saat ini, detik ini, karena kemarin sudah berlalu dan tidak akan kembali lagi. Kebajikan dan keburukan kemarin sudah tidak bisa diulang lagi. Adapun besok masih misteri, adakah yang menjamin kita bernafas sampai mentari terbit esok hari. Tak ada! Maka segeralah beramal dan kejarlah kebajikan saat ini juga.

Kedua: Karena amal kita tidak mungkin dikerjakan oleh orang lain. Saat kita mulai baligh maka saat itu juga kewajiban-kewajiban dipikulkan ke atas pundak kita. Masing-masing akan datang kepada Allah dengan amal perbuatanya. Keshalihan seorang ayah tidak bisa diandalkan anaknya. Iman tak dapat diwarisi begitu kata grup nasyid dari negeri seberang.

Ketiga: Karena kemulian derajat seseorang di sisi Allah disebabkan oleh kesungguhannya dalam merespon seruan kebajikan dan mengamalkannya. Bayangkan jika orang tua kita menyuruh untuk mengerjakan sesuatu hal, dan kita bersegera dalam melakukanya. Orang tua akan senang melihat kita, namun sebaliknya orang tua akan merasa marah dan jengkel jika kita menunda-nunda.

Keempat: Karena setiap waktu ada momennya sendiri. Setiap waktu ada tuntutan amalnya. Banyak sekali amal perbuatan yang terkait dengan waktu. Jika waktunya habis maka berakhirlah kesempatan untuk beramal. Contohnya shalat, puasa, haji dan lain sebagainya.

Kelima: Kesempatan beramal diberikan kepada seseorang pada waktu-waktu tertentu. Orang kaya diberi kesempatan beramal selagi ia masih kaya. Orang berilmu diberi kesempatan beramal dengan ilmunya. Seorang pemimpin diberi kesempatan beramal dengan kekuasannya.

Itulah sebabnya kenapa kita harus menyegarakan untuk beramal. Jangan sampai Allah menyabut kesempatan itu dari diri kita sedangkan kita tak bisa lagi berbuat. Kesehatan, waktu luang,  hidup, masa muda dan kekayaan adalah kesempatan untuk beramal.

Sobat muda, tak ada lagi waktu untuk berpikir. Saat inilah waktumu. Segeralah beramal sesuai dengan tuntutan waktunya. Kejarlah kebajikan sampai ke liang lahat. Wallahu’alam.


Orang Pinter Yang Gagal

Jumat, 23 Maret 2012 | 0 komentar


Bismillah

Bertahun-tahun kita sekolah, mulai dari kita masih ingusan kelas satu SD sampai S1 di kuliah, niatnya apa sih? Tak lain dan tak bukan adalah untuk menjadi orang pinter. Karena biasanya kalo jadi orang pinter bakal jadi orang sukses di masa depan, ya nggak? Tapi ada lho, orang pinter tapi nggak sukses bin gagal. Lha kok bisa...

Sebaliknya ada orang yang gagal tapi sukses. Seperti yang pernah saya tulis dalam catatan facebook "Rosib Yang Sukses". Yup, intinya bagaimana kita menjadi kegagalan tersebut sebagai batu loncatan untuk menggapai kesuksesan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Dr. Aidh Al Qarni penulis buku La Tahzan "Orang yang cerdas dan bijak dan selalu mampu menyulap duka menjadi sukses, sementara orang bodoh dan pengecut selalu membuat satu musibah menjadi musibah-musibah lain."

Di sisi lain ada orang yang pinter tapi gagal dalam menyikapi kepinterannya. Kok bisa sih, apa aja sebenarnya faktor-faktor yang membuat ia bisa gagal. Padahalkan orang pinter (maksudnya bukan dukun lho) seharusnya dengan mudah bisa mencapai kesuksesan. Yuk, kita simak faktor-faktor yang bikin orang pinter jadi gagal.

Pertama: Kurang berinteraksi, meskipun kita sudah pinter tapi kurang gaul dengan orang lain. Atau tidak bisa bersosialisasi dengan orang lain. Maka alamat kita akan menjadi orang-orang yang terpinggirkan. Disebabkan kita tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Jadi, supaya jadi orang pinter and nggak gagal maka banyak-banyaklah bergaul dengan orang lain. Dengan siapapun dan dimanapun. Kenalkan diri kita kepada mereka. Dan jangan pernah merasa malu bergaul dengan siapapun.

Begitu juga dengan berdakwah. Kalo kita ingin mendakwahi orang lain maka harus bisa mengambil hati orang tersebut. Kata Dosen saya "jika ingin memberikan orang lain sebuah apel, maka apelnya jangan dilemparkan tapi berikan dengan baik-baik". Istilahnya dalam bahasa arab bil hikmah wal mauizhah.

Kedua: Banyak perhitungan. Biasanya orang-orang yang banyak perhitungan ini tidak disukai oleh orang lain. Sebab biasanya orang-orang seperti ini terlalu pelit dan maksa "kamu tuh harus begini and nggak boleh gitu." Wajar saja kita gagal dalam berinteraksi dengan orang lain. Dan susah untuk jadi orang sukses kalo seperti ini.

Ketiga: Merasa udah pinter. Orang yang merasa udah pinter and nggak mau lagi belajar. Maka sulit baginya untuk menerima saran dan nasehat dari orang lain. Padahal ilmu yang Allah berikan kepada kita hanya sedikit sekali. Bagaikan setitik air pada jarum yang dicelupkan ke dalam lautan. Tak ada apa-apanya dibandingkan ilmu Allah. Seorang ulama mengatakan bahwa "Orang yang mengaku dirinya pinter maka sungguh dia lah sebenarnya orang yang bodoh"

Keempat: No Action, tidak hanya pandai berbicara tapi juga mengamalkan. Dalam bahasa Al Qur'an orang-orang seperti ini sangat dibenci disisi Allah. Bagaimana kita menyuruh orang lain sementara kita melupakan diri kita sendiri. 

Kelima: Nggak berani bertindak. Kita tidak saja membutuhkan orang-orang yang hanya pandai berbicara tapi juga berani bertindak. hampir sama dengan faktor keempat "no action alias omdo (omong doank)". Untuk itu kita harus percaya dan yakin terhadap apa yang kita sampaikan.

Trus gimana donk supaya kita nggak jadi orang pinter yang gagal. Caranya adalah:

Pertama: Deket dengan orang-orang alim dan soleh. Sebab jika kita deket dengan mereka kita tidak dijerumuskan kepada keburukan. Mereka akan selalu memberikan kita nasehat ketika kita lalai dan lupa. Makanya ada pepatah yang bilang orang yang berkawan dengan orang saleh ibarat berteman dengan tukang minyak wangi. Untung-untung kita langsung dikasih minyak wangi..hehe. Asyik!

Kedua: Jauhin dari perbuatan yang melenakan. Yup Islam sudah mengajarkan kita untuk menjadi orang yang memanfaatkan waktu dengan baik. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa tanda baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat bagi dirinya baik perkataan maupun perbuatan. Sudah seharusnya seorang muslim yang baik memanfaatkan waktu-waktunya untuk pengembangan diri. Baik dari segi keilmuan, skill dan lain sebagainya. Jangan sampe kita dilenakan dengan dunia maya non stop. Atau main PS yang tak tahu waktu.

Ketiga: Inget selalu dengan tujuan awal kita. Jauh-jauh kita datang dari Indonesia ke Mesir ngapain sih? apa cuma buat ketemu sama orang Arab atau mau cari Aishah (hehe). Yup, kita datang ke sini dengan sebuah obsesi, dengan sebuah cita-cita ingin memperdalam ilmu agama. Maka ingatlah tujuan awal kita. Kalo bisa tempel di dinding kamar kita "Ke Mesir Apa yang Kau Cari?"

Keempat: Inget pengorbanan orang-orang yang mencintai kita. Pasti ada banyak hal yang sudah dikorbankan oleh orang-orang menyayangi kita supaya kita bisa pinter and suskes. Terutama kedua orang tua yang sudah banyak mengeluarkan duit setiap bulannya. Apalagi pas mau berangkat ke Mesir harus jual sawah, jual motor, jual kebun dan lain sebagainya. So, inget-inget yha sama mama and papa di rumah ^_^

Kelima: Inget sama konsekwensi dari perbuatan kita. Entah itu perbuatan baik maupun perbuatan buruk. Setiap ada aksi pasti ada reaksi, ya nggak? Kalo kita berbuat baik sama orang lain, pasti orang juga bakalan baik sama kita kecuali emang orangnya keras kepala (hehe). Begitu juga kalo kita jahat sama orang lain, maka siap-siap dijahatin juga, hehe. Kita harus selalu memprekdiksikan semua perbuatan kita. Kalo kita lakuin gini, nanti akibatnya pasti gini. Yha, gitu dhe...

Nah, pada nggak mau kan jadi orang pinter yang gagal. So that's why, kita kudu pinter-pinter (hehe). Tidak hanya pinter masalah pelajaran aja, tapi juga pinter bergaul dan berinteraksi dengan orang lain. Kalo kata pakar-pakar (pakar apa ya namanya?) bahwa tidak hanya IQ (Intelektual Quetion) saja yang diperlukan untuk menjadi orang sukses tapi EQ (Emosional Quetion) juga sangat menentukan.

NB: Makasih buat Te Fa yang udah bagi-bagi ilmu sama kita pagi ini

Misteri Mani

Senin, 12 Maret 2012 | 0 komentar


Alkisah, dulu ada seorang syekh yang sangat mencintai ilmu, dimanapun dan kapanpun beliau selalu berusaha menuntut ilmu dan mengajarkan ilmunya. Karena amanah yang paling besar dan akan ditanyakan di akhirat nanti adalah amanah menyampaikan ilmu terutama ilmu syar'i. 

Jadi suatu ketika syekh ini sudah di atas kasur kematian. Sebentar lagi malaikat Izrail akan mencabut nyawanya. Pada saat genting seperti itu para murid beliau berkumpul mengelilinginya. Namun di saat sakaratul maut, sang guru tetap mengajarkan ilmu kepada para muridnya. Ia mengatakan kepada muridnya-muridnya dengan nafas tersengal "Wahai murid-muridku...ketahuilah, bahwa mani kelelawar sama seperti mani seorang laki-laki" Tak lama kemudian sang guru meninggal dunia.

Setelah itu para murid-muridnya belajar kepada para masayikh yang lain. Tapi ada seorang murid yang tekun belajar sehingga 40 tahun kemudian ia menjadi seorang Hakim Agung di Daulah Abbasiah.

Singkat cerita, terjadi suatu peristiwa yang bisa mengakibatkan perang antar negara. Yaitu sang raja mendapati mani di atas kasur tempat tidurnya bersama permaisuri. Akan tetapi sang raja malam itu tidak tidur bersama permaisuri. Lalu kenapa ada mani di atas kasur ini. Jika benar permaisuri selingkuh maka akan terjadi peperangan. Sebab masyhur zaman dahulu raja menikah dengan puteri kerajaan lain.

Sang raja sudah memanggil para ilmuwan kerajaan untuk memastikan bahwa ini adalah benar-benar mani. Setelah diadakan uji coba maka para ilmuwan kerajaan menguatkan bahwa ini benar-benar mani. Tapi sebelum terjadi perang antar kerajaan maka dipanggillah hakim agung untuk memustukan perkara.

Akhirnya datanglah hakim agung tadi ke kamar sang raja. Lalu ia melihat ke langit-langit kamar raja, ia mendapatkan di sudut langit-langit ada lobang kecil. Lantas ia menyuruh beberapa prajurt kerajaan untuk memeriksa isi lobang tersebut. Setetah diperiksa ternyata isinya adalah makhluk kecil bernama kelelawar. Hakim agung tersebut teringat akan perkataan gurunya sebelum meninggal bahwa mani kelelawar sama seperti mani seorang laki-laki. 

Terungkaplah misteri mani di atas kasur raja tersebut. Mani itu adalah mani kelelawar bukan mani seorang laki-laki. Sebagaimana yang dikatakan oleh gurunya dulu sebelum meninggal bahwa mani kelelawar sama seperti mani seorang laki-laki. Dengan karunia Allah perang antar negara tidak terjadi. Berkat ilmu dari seorang hakim agung yang ia dapatkan dari gurunya sebelum meninggal. Kini barulah ia mengerti manfaat dari ilmu yang tuntut selama ini.

Akhi fillah, saat ini mungkin kita belum merasakan buah dari ilmu yang kita tuntut. Atau kadang kita sempat berpikir kenapa harus capek-capek ke kuliah mendengarkan muhadharah, toh bisa baca diktatnya langsung.  Tapi boleh jadi pemahaman kita tidak sesuai dengan apa yang dipahami duktur. Apalagi di tengah muhadharah banyak sekali duktur memberikan tambahan-tambahan yang tidak ada tertulis di kitab.

Ketika kita sudah pulang ke Indonesia nanti, pasti banyak masyarakat yang akan bertanya kepada kita. Apa hukumnya ini, hukumnya itu dan lain sebagainya. Namun bisa jadi kita teringat akan perkataan duktur ketika menghadiri kuliah. Mungkin sekarang belum terasa, tapi besok ketika di Indonesia barulah kita menyesal. Kenapa dulu tidak rajin-rajin selama di Kairo!

Akhrie Robbani
Negeri Qur'ani, 12 Maret 2012
Kutulis untuk menyiram semangat yang semakin layu

 
© Copyright 2010-2011 Generasi Rabbani All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.